Eko Politik (22)

Kami akan sajikan kajian dari Prof. Dr. Erdal Tanas KARAGÖL, Departemen Ekonomi, Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt

Eko Politik (22)

Turki yang tengah melangkah untuk menjadi negara pusat perdagangan energi, baik potensi secara geografis maupun ketersediaan energi, dengan rute penyaluran energi, memiliki peran besar dalam keamanan pasokan energi. Peran tersebut menjadikan Turki lebih aktif dengan kebijakan energi yang diterapkannya di kawasan. Dalam konteks ini, perlu ditekankan bahwa dalam beberapa tahun terakhir cadangan gas alam ditemukan di cekungan Mediterania timur, Turki akan menjadi aktor terpenting dalam sebagai penyeimbang pasokan energi di kawasan, dan memasok permintaan pasar energi negara-negara Mediterania Timur.

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian yang dilakukan oleh perusahaan energi internasional di perairan Pemerintahan Yunani Siprus Selatan (GKRY), Mesir, Palestina, Israel dan Lebanon telah memainkan peran penting dalam mempromosikan potensi energi di kawasan itu. Penemuan cadangan gas alam besar pertama di cekungan ini dilakukan Pada tahun 2009 di medan Tamar yang terletak di Zona Ekonomi Eksklusif Israel, dan pada tahun 2010 di area Leviathan.

Studi penelitian energi di Mediterania Timur berlanjut pada tahun 2011, ditemukan 198 miliar meter kubik cadangan gas alam di daerah Aphrodite, di GKRY MEB. Kemudian, pada tahun 2015, digali sumber gas alam terluas sebanyak 850 miliar meter kubik di perairan Mesir di Zhao. Semua perkembangan ini telah menjadi bagian dari keseimbangan energi di kawasan dengan cadangan gas alam yang dimiliki Mediterania Timur.

Tentu saja, dengan ditemukannya cadangan ini, negara-negara tersebut telah membuktikan simpanan gas alam yang ada di wilayah mereka sendiri. Karena belum ada langkah konkret yang diambil oleh negara-negara di kawasan itu untuk memanfaatkan cadangan gas alam ini. Bagaimana mereka akan menyikapi keberadaan cadangan gas alam yang ada negara-negara Mediterania Timur, bagaimana gas alam yang mereka miliki akan dapat sampai ke pasar, dan peran apa yang akan dimainkan kawasan ini dalam perdagangan energi? Ini masih menjadi pertanyaan yang belum dijawab dengan jelas oleh negara-negara di Mediterania Timur.

Menurut Badan Energi Internasional, hingga tahun 2022 konsumsi gas alam global mencapai 4 triliun kubik meter, hal ini mengingkatkan semakin pentingnya keberadaan sumber daya gas alam di dunia. Namun sayangnya, saat ini memiliki cadangan gas alam tidak selalu membuat negara-negara tersebut menjadi lebih unggul di dunia. Selain menjadi pemilik sumber daya, penting juga untuk mengetahui cara memperdagangkan sumber daya ini dan cara menyalurkannya ke pasar.

Dalam mentransfer sumber daya ini, ada rute distribusi yang jelas untuk menyalurkan energi ini dari sumbernya ke pasar. Kini Turki yang memiliki rute-rute ini menjadi negara yang paling masuk akal dalam hal keamanan dan biaya pasokan energi. Namun, karena negara-negara Mediterania Timur kurang mengambil tindakan yang konkret, Turki menunjukkan cara untuk menjangkau pasar mereka dengan memberikan alternatif yang berbeda.

Tentu saja, isu tentang seberapa masuk akal pencarian ini akan diperjelas. Karena hari ini Turki dengan perannya yang sudah memberikan keuntungan dalam perdagangan energi dengan adanya pipa gas alam kemudian akan semakin diperkuat bulan depan dengan adanya pipa TANAP dan penyaluran gas alam dari timur ke barat. Di sisi lain, dengan proyek TurkStream yang diharapkan dapat terselesaikan pada tahun 2019, Turki akan menjadi persimpangan transfer energi melalui pipa gas alamnya yang mulai beroperasi dari Turki wilayah bagian utara hingga ke wilayah bagian barat. Jadi dalam hal ini Turki akan menjadi salah satu pemain kunci dalam penyeimbang energi kawasan.

Namun, dapat diketahui bahwa negara-negara Mediterania Timur masih bisa mencari solusi strategis untuk mendapatkan keuntungan sebagai pemilik sumber daya namun mereka tidak melihat peran luar biasa Turki di wilayah tersebut. Jelas, kebijakan energi yang akan dikembangkan di Mediterania Timur dalam periode singkat ini tampaknya tidak memiliki gagasan yang konkret.

 

Demikian kajian dari Prof. Dr. Erdal Tanas KARAGÖL, Departemen Ekonomi, Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt



Berita Terkait