• Video Galeri

Eko Politik (25)

Kami akan sajikan kajian dari Prof. Dr. Erdal Tanas KARAGÖL, Departemen Ekonomi, Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt

Eko Politik (25)

AS yang merupakan aktor terpenting dalam ekonomi dunia, mengambil langkah-langkah untuk mengubah arah ekonomi internasional dengan kebijakan yang diambilnya dalam beberapa tahun terakhir. Dalam beberapa bulan terakhir, keputusan untuk menerapkan pajak bea cukai dalam perdagangan luar negeri dengan China dan tanggapan China terhadap kebijakan ini telah menggiring wacana pertarungan perdagangan di jantung ekonomi global. Amerika mengambil kebijakan perdagangan proteksionis yang diikuti oleh FED, dua keputusan untuk menaikkan suku bunga pada paruh pertama tahun ini dan diperkirakan akan menaikan 2 kali lagi suku bunga pada tahun ini, semakin menunjukkan bahwa AS akan memperketat kebijakan moneternya.

Jadi, apa efek dari kebijakan ini terhadap perkembangan yang terjadi di negara-negara berkembang, khususnya Turki? Langkah apa yang harus diambil oleh Turki untuk menghadapi berbagai skenario yang mungkin muncul di masa yang akan datang?          

Keputusan kebijakan perlindungan yang diambil oleh ekonomi AS, kenaikan suku bunga Fed dan rencana untuk mengakhiri pembelian aset pada akhir tahun ini di Eropa, sebenarnya, menunjukkan tanda-tanda adanya perubahan arah angin ekonomi global. Dengan adanya ekspansi moneter dalam krisis ekonomi global tahun 2008, uang yang mengalir dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang kini berbalik arah. Di satu sisi, hal ini menciptakan gejolak di pasar keuangan global, di sisi lain mengisyaratkan problem yang serius bagi ekonomi negara berkembang karena memberikan tekanan pada nilai tukar mata uang negara-negara berkembang.

Selain itu, tidak boleh dilupakan bahwa lembaga keuangan internasional dan keputusan lembaga pemeringkat kredit pada peringkat kredit dan revisi prakiraan pertumbuhan mereka dalam laporan yang dipublikasikan. Jelas bahwa kebijakan semacam itu telah menyebabkan peningkatan persepsi risiko bagi negara berkembang.

Di sisi lain, tekanan ini menyebabkan perubahan dalam nilai tukar mata uang negara-negara berkembang, kenaikan suku bunga ini menyebabkan bank-bank sentral negara-negara ini tidak akan menghasilkan banyak hasil positif dalam jangka panjang.

Hari ini, kita lihat suku bunga tertinggi di antara negara-negara berkembang terjadi di Argentina dengan sebesar 27,25%, sementara suku bunga  di Turki 17,75 persen, setelah ada keputusan yang baru-baru ini diambil oleh Bank Sentral.

Pertama-tama, harus digarisbawahi bahwa peningkatan ini cukup besar dalam perekonomian. Meskipun Bank Sentral Turki telah menetapkan bunga yang tinggi untuk mengimbangi pergerakan nilai tukar, pada akhirnya suku bunga tinggi, nilai tukar tinggi dan inflasi tinggi adalah siklus yang terjadi berturut-turut.

Oleh karena itu, meskipun kenaikan suku bunga tampaknya memiliki efek positif pada keseimbangan jangka pendek dari kurtosis, dapat menyebabkan hasil negatif dalam jangka panjang karena biaya pinjaman yang bertambah.

Untuk menciptakan stabilitas ekonomi dalam jangka panjang dan mencegah turbulensi ekonomi global, pertama-tama kebutuhan pembiayaan asing perlu dikurangi. Dalam hal ini, mencari pembiayaan yang biayanya rendah dan meningkatkan potensi untuk menarik investasi asing, secara langsung akan memberikan dampak yang lebih efektif dalam jangka panjang.

Namun dalam laporan terbaru yang diterbitkan oleh lembaga pemeringkat Fitch, Ekonomi Turki menunjukkan peningkatan yang baik jika dilihat dari aspek internal maupun perkembangan terakhir di pasar global, diperkirakan perkembangan ekonomi Turki pada tahun 2019 berkisar dari 4,7 persen ke 3,6 persen, hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk mengeluarkan persepsi spekulatif terus berlanjut dengan cepat. 

Dari semua persepsi ini, untuk memastikan pertumbuhan ekonomi Turki yang berkelanjutan sebesar 7,4 persen pada kuartal pertama 2018, diperlukan untuk fokus pada masalah pembiayaan dan mengembangkan sarana pembiayaan yang efektif. Hari ini, Turki menerapkan sarana pembiayaan baru dengan mengurangi kebutuhan pembiayaan eksternal, kinerja makroekonomi yang sukses yang terintegrasi dengan struktur keuangan yang kuat, struktur yang stabil dan solid.

 

Demikian kajian dari Prof. Dr. Erdal Tanas KARAGÖL, Departemen Ekonomi, Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt



Berita Terkait