Artikel İbrahim Kalın (DOA el-Farâbi)

Pada tanggal 7 Januari 2017 silam, juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalın telah melakukan sebuah wawancara bersama ‘’DailySabah’’ dengan isinya sebagai berikut:

Artikel İbrahim Kalın (DOA el-Farâbi)

Salah satu ulama dan pemikir yang terkenal bernama al-Farâbi, nasihat-nasihatnya yang juga bisa disebut doa bukanlah hanya untuk pelajar filsafat saja. Beliau juga adalah penganut tasawwuf dan ilmu yang sangat menyentuh perasaan manusia hingga dapat tersadar dari dosa.

Seorang filosof bagaimanakah berserah diri kepada Tuhan? Tidak ada yang beda dari seluruh manusia, seluruhnya baik yang mempunyai pendidik tinggi, pejabat, ulama dan lainnya. Seluruhnya mempunyai satu tujuan yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan. Oleh karenanya, agar terhindar dari keburukan haruslah berdoa karena tidak ada yang dapat menjauhkan kita dari segala kepedihan kecuali berdoa kepada Tuhan.

Doa adalah sebuah contoh yang nyata. ‘’Berdoalah kepada-Ku niscaraya akan aku kabulkan’’ berikut adalah ungkapan-Nya. Tidak ada yang dapat mendekatkan diri kita bersama Sang Pencipta kecuali dengan berdoa kepada-Nya. Oleh karena itu berdoalah.

Seluruh agama pastinya menganjurkan untuk berdoa kepada Tuhan yang dipercayainya, khususnya dalam Islam doa adalah ‘’Senjata’’ yang paling handal dalam menghadang segala masalah. Allah SWT beserta Rasul-Nya telah mengajarkan kita bagaimana agar hidup bahagia, sejahtera dan sentosa dikarena doa yang mujarrab. Hanya kepada-Nya lah tempat kita bersandar dan manusia hanyalah makhluk lemah tanpa doa seperti diungkapkan oleh nabi Muhammad SAW ‘’Ibadah Terbaik adalah Berdoa’’

Pada dasarnya doa atau dua mempunyai tiga bagian besar. Pertama adalah kita harus meyakini bahwa tiada kekuatan kecuali hanya milik dan datang dari-Nya, kedua kita harus merasa diri kita hampa dan segala yang kita miliki adalah milik-Nya, dan yang ketiga tidak ada jalan lain jalan yang lurus dan diridhoi, aman dan melindungi kecuali datang dari-Nya.

Tuhan telah menciptakan berbagai manusia dengan berbagai permasalahannya, namun setiap orang mempunyai pemikiran filsafat tersendiri dalam mengadu salah satunya adalah dengan memanjatkan doa agar terhindar dari segala masalah. Namun ada juga yang tidak memanjatkan dan itu hanya tergantung pada kepercayaan masing-masing. Setiap doa pastinya akan ‘’Didengar’’, oleh karena itu sepatutnya kita sebagai manusia yang penuh dan dosa dan tempatnya lupa harus mendekatkan diri kepada Pencipta dengan berdoa. Doa adalah awal menuju ‘’Keberadaan’’, kata yang dimaksud adalah mengimani atau mempercayai adanya Pencipta yang acap kali melindungi kita. Dalam onto-kosmologi disebutkan bahwa doa adalah dasar dari perbuatan manusia yang harus dilakukan. Dapat kita perhatikan terhadap manusia-manusia yang jarang dan bahkan tidak pernah memanjatkan doa, dikala mereka senang mereka lupa namun sebaliknya dikala mereka susah dan sengsara mereka selalu ingat dan memanjatkan doa. Sebagai umat yang beriman, seharusnya kita mempercayai adanya Asmaul Husna yang berjumlah 99 nama.

Oleh karenanya hal yang telah disebutkan di atas telah diungkapkan jauh sebelum kita hidup oleh seorang filosof bernama al-Farâbi (875-950), beberapa peninggalan doanya pun telah diterbitkan dalam berbagai karyanya. Al-Farâbi adalah guru besar dalam ilmu filsafat setelah filosof terkenal bernama Aristotales. Dalam kita lihat bagaimana pemikiran mereka yang sangat masuk akal dan sesuai dengan dasar tujuan dari hidup manusia. Dalam filosofi Islam, karya-karya al-Farâbi beserta doa-doanya sangatlah berpengaruh dalam kehidupan umat muslim, terutama dalam hal ‘’Akal’’ yang selalu menjadi dasar dari pergerakan manusia.

Dalam karya al-Farâbi bernama Kitâbu’l-Millat wa Nusûsun Uhrâ yang diterbitkan dikota Bairut pada tahun 1986 disebutkan ‘’Doa yang besar atau ad-Duâu’l-‘Adzim’’. Hal ini juga dibahas oleh seorang ilmuwan Turki bernama M. Mehdi yang hingga saat ini manuskriptnya atau tulisan tangannya masih berada di Perpustakaan Süleymaniye Istanbul.

Tepatnya pada halaman 89-92, ‘’Doa yang besar atau ad-Duâu’l-‘Adzim’’ telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris yang dapat kita lihat dan amalkan bersama.

Doa al-Farâbi telah menjadi hal yang berguna dalam ilmu filsafat dan ilmu keagamaan. Tuhan adalah penyebab dari segala apa yang telah kita lakukan. Tuhan adalah pengatur dari semua yang ada didunia, seluruh kebenaran telah ditetapkan oleh Tuhan. Namun sayangnya hal itu sering kali disalah gunakan oleh manusia. Berikut adalah doa dasar dari filosof al-Farâbi dalam kutipan karyanya:

 ‘’Wahai Engkau pencipta semesta! Wahai Penyebab dari segala sebab, azal dan keabadian Engkaulah Ya Allah. Engkaulah yang selalu menjaga kami, Engkau pula yang selalu mencapaikan segala hasrat kami’’.

Wahai Engkau Ya Allah Penguasa Timur dan Barat! Limpahkanlah segala Rahmat-Mu, berikanlah kemudahan dalam urusan hamba-Mu, berikanlah pula kepada kami keberkahan kepada seluruh Umat-Mu’’.

Berikut pula lantunan puisi al-Farâbi dalam karyanya mengenai doa:

 ‘’Engkaulah Maha Penerang, Penguasa seluruh sungai yang mengalir dan tujuh lapisan langit!’’

Engkau adalah penggerak bintang-bintang dan hanya atas kehendak-Mu lah segalanya berjalan

Tidak ada kebaikan yang lebih baik dibandingkan pemberian dari-Mu, tanpa segala kehendak-Mu kami manusia dan segala isi langit dan bumi hanyalah bisa menunggu.

Kami bukanlah pengatur dari segala cuaca, ontologi dan kosmologi yang Engkau miliki, sebesar manusia apapun tidak apa-apanya dibandingkan atas kehendak-Mu, dari Tuhan lah segala nikmat kita rasakan. Setelah itu al-Farâbi mengungkapkan segala keindahan, perlindungan dan kebesaran hanyalah datang dari-Nya. 

 ‘’Ya Allah! Engkau telah memberikan kami pakaian, kebaikan dan keindahan yang sangat layak, dengan kebesaran Rasul-Mu kami menuju kepada dunia yang terang, ilmu yang bermanfaat dan hanya kepada Engkaulah kami berserah diri dan merasa takut’’.

Ya Allah! Jauhkanlah kami dari segala siksa dan ketidak pastian dunia serta keburukannya, jadikanlah sadakah dan pemberian lainnya sebagai alat kami dalam memberikan hal yang bermanfaat bagi saudara-saudara kami yang telah syahidkan’’.

Dengan rahmat-Mu, Tuhan segala makhluk, sucikanlah saya dari segala kotoran duniawi dan rohani."

Tuhan tidak terbatas dan memiliki kasih sayang yang berlimpah, namun hambanya, yaitu al-Farabi, sang filsuf, lemah dan membutuhkan bimbingan ilahi serta perlindungan dari godaan nafsu dan kerinduan duniawi:

"Oh Tuhan semesta alam, yang Maha Sempurna, roh surgawi? Hamba-Mu ini telah menyerah pada nafsu manusia dan kecintaan duniawi yang rendah. Jadikanlah perlindungan-Mu perisai saya dari segala kesalahan dan ketakutan serta pemujaan atas-Mu melindungi saya dari ekstremisme. Sesungguhnya, Engkau meliputi segalanya.

Ya Tuhan! Selamatkan saya dari penjara dari empat elemen dan bawa saya ke sisi-Mu, yang lebih luas dari semua, dan kedekatan terhadap-Mu lebih mulia daripada apapun.

Ya Tuhan! Jadikanlah kecukupan yang Engkau berikan menjadi alasan bagi saya untuk memotong hubungan buruk antara saya dan entitas duniawi dan kekhawatiran dari dunia ciptaan-Mu. Jadikanlah hikmat penyebab kesatuan jiwa saya dengan dunia ilahi dan roh surgawi.

Ya Tuhan! Hidupkanlah kembali jiwa saya dengan roh-Mu, karuniai kecerdasan dan indra saya dengan kebijaksanaan tertinggi, dan jadikanlah para Malaikat sahabat saya daripada dunia alam semesta.

Ya Tuhan! Beri saya bimbingan, kencangkan iman saya dengan kesadaran dan rasa takut, sehingga membuat saya enggan mencintai dunia.

Ya Tuhan! Berikan aku kekuatan melawan keinginan sekilas, ambil jiwaku untuk tempat tinggal para roh abadi, dan jadikan jiwaku anggota dari zat yang tinggi dan mulia di surga luhur."

Sang filsuf memuji Tuhan dalam keindahan-Nya dan keagungan-Nya serta meninggikan rahmat-Nya yang tak terbatas untuk semua makhluk termasuk manusia. Semua makhluk memuji Tuhan tetapi banyak yang tidak memahami doa kosmologis ini. Hal ini membutuhkan epistemologis yang lebih tinggi untuk dapat melihat dan menghargai apa yang tidak menampakkan dirinya pada pandangan pertama. Sebuah panggilan bagi mata hati untuk melihat:

"Saya memuji Engkau, satu-satunya yang mendahului semua makhluk, yang berbicara dengan bahasa spiritual. Engkau memberikan semua makhluk kebijaksanaan dan menganugerahkan keberadaan sebagai bentuk anugerah dan kemurahan atas ketidak beradaan mereka. Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Al Quran, Isra, 44)

Ya Tuhan! Saya memuji Engkau. Engkau adalah Yang Maha Esa dan Abadi. Engkau tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Engkau. (Al Quran, Ikhlas, 3-4)."

Bagian terakhir dari doa al-Farabi mungkin yang paling intens saat ia memohon kepada Tuhan untuk memurnikan jiwanya, melindungi dari kesalahan dan membimbingnya menuju kebenaran. Doa sederhana yang sangat kuat:

"Ya Tuhan! Engkau telah memenjara jiwaku dalam penjara empat elemen dan memberikan tuigas untuk merobeknya kepada hewan-hewan yang dipenuhi dengan nafsu.

Ya Tuhan! Perbaharuilah jiwaku dengan kesucian, kasihanilah ia. Bantulah jiwaku dengan kemurahan hati yang berasal dari-Mu dengan cara yang paling tepat. Kabulkan pertobatannya yang dimiliki oleh dunia langit. Percepat kembalinya ia ke tempat yang mulia. Berikanlah seberkas cahaya matahari pada kegelapannya. Pindahkan ia dari kegelapan kebodohan menuju cahaya kebijaksanaan dan kecerahan intelektual. Tuhan pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)." (Qur'an, Baqarah 257).

Tidak peduli seberapa cerdas dan berbakat seseorang, ia membutuhkan bimbingan ilahi untuk menolak godaan duniawi. Logika semata tidaklah cukup; seseorang membutuhkan tekad kuat  untuk memperbaiki spiritual dan integritas moral. Inilah cara Farabi mengakhiri doanya:

"Ya Tuhan! Tunjukkan jiwaku bentuk sebenarnya dari yang tak terlihat dalam mimpi dan ubahlah dari melihat mimpi buruk menjadi kebaikan dan kabar gembira dalam mimpi. Bersihkan dari kotoran yang menimpa indra dan imajinasi menyesatkan. Hapuskan kekeruhan duniawi. Tempatkan jiwaku bersama jiwa-jiwa yang mulia.

Ya Tuhan yang telah membimbing saya (ke jalan yang lurus), yang telah mencukupi saya, yang telah melindungi saya!

Pujian adalah untuk Allah semata dan shalawat dan salam adalah untuk (Nabi Muhammad) yang setelahnya tidak ada nabi."

 

Amin!



Berita Terkait