Perspektif Global (1)

Menulis adalah pekerjaan penulis dan pembaca secara bersama-sama. Pekerjaan ini membutuhkan kasih sayang, rasa hormat, cinta dan kepercayaan.

Perspektif Global (1)

Menulis membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri. Saat Anda menulis, Anda mengungkapkan semua yang ada dalam diri Anda. Anda membuka pikiran dan hati Anda.

Menulis bukan pesan satu arah, tapi merupakan interaksi, dengan saling berbagi “take and give” dengan pembaca.

Menulis adalah sebuah penemuan. Yang anda eksplor dari pengalaman dan bacaaan anda selama berpuluh-puluh tahun untuk menjadi jendela dunia.

Menulis adalah petualangan. Ketika Anda memulai, Anda tidak tahu persis asal tulisan Anda. Apa yang akan Anda hadapi setelah Anda menulis, di media mana dan kesan apa yang akan anda tinggalkan...

Kami akan sajikan kajian dari Prof. Dr. Kudret BÜLBÜL, Dekan Fakultas Ilmu Politik, Yıldırım Beyazıt University, Ankara

Kami akan mengunjungi banyak tempat dengan Anda dalam petualangan ini. Kami akan membericarakan banyak topik. Dalam agenda kami, kadang kami akan membawa anda ke Balkan, Timur Tengah, Kaukasus, Afrika. Terkadang, kita akan mendengarkan teriakan orang-orang dari geografis yang tertindas seperti Palestina, Krimea, Ahiska, Moro, Arakan. Terkadang kita akan menyarakan keluarga di Eropa yang diambil anaknya,  imigran yang dikecualikan dari Barat, pemuda yang berusaha menemukan jalan hidupnya karena kehilangan jati dirinya. Terlepas dari bahasa, agama, warna kulit, ras, kita akan mengundang orang-orang di dunia yang peduli terhadap kemanusiaan. Kecenderungan di Barat sangat mengkhawatirkan.

Kami akan mencoba untuk melihat dunia dari perspektif Turki dalam situasi apapun. Bukan hanya isu tentang Turki, tetapi kami juga akan melanjutkan analisis tentang isu-isu di dunia dari sudut pandang Turki. Kita sering terjebak dalam agenda lokal dan menjauhkan diri dari perkembangan global. Kita tidak dapat melihat orang-orang yang hidup di negara lain karena jauhnya jarak yang tidak dapat kita tempuh. Terjebak dengan agenda internal yang konstan dapat menutup mata kita terhadap perkembangan di dunia, nilai-nilai kemanusiaan dan hati nurani kita kepada wilayah geografis sekitar kita. Kita perlu memperbaharui wawasan dengan mengikuti analisis dari sudut pandangan Turki tentang apa yang terjadi di Dunia, tentang warisan yang kita miliki.

Dalam hal ini, kita akan menempatkan di mana proyeksi kita dan dari sudut pandang mana kita memandang dunia. Jika kita lihat dunia saat ini, kita menghadapi tiga masalah mendasar. Ketidakadilan, ketidakmerataan dan ketidakmampuan untuk hidup bersama dalam budaya yang berbeda. Semua masalah umat manusia berkaitan dengan ketiga masalah tersebut. Nah, adakah pengalaman untuk menyelesaikan masalah dasar kemanusiaan ini? Apapun bahasa, agama, ras, dan warnanya, seperti Yunus, sebuah tradisi yang melihat ciptaan sebagai sesuatu yang menyenangkan yang datang dari pencipta, bersikap adil kepada setiap orang, memikirkan tetangganya yang lapar?, Jika umat manusia memiliki tradisi semacam itu, kita akan mengadopsi tradisi tersebut, bukan sebuah gagasan yang belum teruji yang tidak kita ketahui kemana kita harus membawanya, tetapi tradisi yang telah teruji dan akan membawa kita ke keselamatan.

Contoh yang kita dapatkan dari Barat mengenai keadilan, berbagi dan pluralisme sangatlah terbatras. Peradaban kita bisa memberi kita banyak pelajaran untuk menyelesaikan masalah yang ada. Perjalanan seribu tahun Horasan ke Balkan seperti lentera laut yang bisa menerangi jalan kita untuk memecahkan masalah yang kita hadapi.

Dari sudut pandang ini, seratus tahun yang lalu, Istanbul dapat dikatakan sebagai salah satu tempat paling global dalam hal kemanusiaan. Semua pemikiran/arus/ideologi/pemahaman tidak muncul di lingkungan individual yang sempit atau wilayah yang kecil, tetapi muncul di lingkungan di mana perbedaan hidup berdampingan. Karena gagasan ini dapat menguatkan diri di lingkungan yang penuh  perbedaan dan perselisihan. Dalam konteks ini, dalam sejarah yang baru-baru ini Istanbul merupakan tempat dimana para pemikir yang memiliki perbedaan dapat hidup berdampingan dan dapat mengekspresikan pemikirannya dengan nyaman baik di era konstitusional maupun era sebelumnya. Istanbul adalah sebuah lingkungan di mana Kekaisaran dapat hidup berdampingan dengan semua komponen elemen Muslim (Turki, Arab, Kurdi, Albania, Bosniak ...) dan non-Muslim (Kristen, Yahudi, Armenia ...). Oleh karena itu, bukan sebuah nubuat yang diramalkan bahwa Istanbul mempunyai potensi yang dapat mendialogkan isu-isu yang terjadi hari ini secara lebih mendalam.

Para intelektual Turki pada abad ke-20 lebih banyak terpengaruh oleh peradaban barat dari pada peradaban kita sendiri. Baru-baru ini, mereka juga telah terinspirasi oleh gerakan intelektual di negara-negara seperti Mesir, Iran dan Pakistan. Tidak diragukan lagi, ini adalah keuntungan mengikuti perkembangan di Barat dan Timur, untuk mengetahui dan mengevaluasi gagasan yang berbeda. Akan tetapi, hal besar yang berbeda pada era terdekat ini adalah para intelektual Turki yang mengikuti perkembangan di negara-negara tersebut. Oleh karena itu pemikiran paling luas ada di Istanbul dan tidaklah cukup dalam waktu singkat untuk dapat menganalisis dan mengikuti dinamika perdebatan yang ada disana. Dengan era Republikan, ikatan sosial yang tercipta di Istanbul ini belum cukup untuk dilepas.

Bahkan saat ini, ada banyak orang-orang kota di dunia, dengan masalah yang ada di wilayahnya mereka khawatir untuk dapat hidup dengan bebas sesuai dengan identitas jati dirinya sendiri. Oleh karena itu, pengalaman terdekat dan paling tepat yang bisa kita ambil pelajarannya untuk memecahkan masalah yang tengah kita hadapi saat ini adalah Istanbul. Ia seperti mercusuar laut yang berdiri secara implisit menerangi lautan masalah yang sedang kita hadapi. Toynbee, sejarahwan terkenal, menyebutkan Istanbul dengan sebutan "peradaban yang diberhentikan."

Dengan periode "tak terbendung", Istanbul, yang memiliki perpaduan Timur dan Barat, dapat memberikan kita pelajaran dalam memecahkan masalah yang kita hadapi saat ini. Sayangnya hari ini kita terputus dari peradaban ini.

Kita perlu kembali dan berjalan dari sana.

Di satu sisi untuk menemukan formula yang begitu luas, sedangkan di sisi lain untuk menemukan solusi untuk memecahkan masalah global..

Artikel ini akan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Dimanapun  berada, apapun bahasanya, agamanya, warna kulitnya, kepercayaannya, Anda ada dalam cakupan perjalanan global ini. Mari kita berjalan bersama. Perjalanan kita masih panjang, waktu kita terbatas..

 

Sekian kajian dari Prof. Dr. Kudret BÜLBÜL, Fakultas İlmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazit



Berita Terkait