FETÖ Sebagai Gerakan Invasi yang Ada di Dunia

Kami akan sajikan kajian dari Prof. Dr. Kudret BÜLBÜL, Dekan Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt Ankara..

FETÖ Sebagai Gerakan Invasi yang Ada di Dunia

Dalam artikel kami sebelumnya, kami berbicara tentang apa yang terjadi pada 15 Juli, kita bahas tentang apa yang telah dilakukan FETÖ, dan bagaimana mereka memisahkan diri mereka dari masyarakat dan nilai-nilai Islam yang disepakati secara umum. Setelah kami perhatikan dan pelajari dalam waktu yang cukup lama, akhirnya kami tahu bahwa mereka dapat melakukan segalanya demi mencapai tujuan yang mereka inginkan.

Strategi Konsolidasi FETÖ

Setelah memformat ulang dengan keyakinan yang "sakral" dan rahasi, FETÖ telah mengirimkan anggotanya ke negara-negara lain agar dapat menyebar. Sebagaiamana yang telah mereka lakukan saat awal-awal di Turki, mereka juga melakukan hal yang serupa di negara-negara itu. Pertama mereka membuka sekolah dan membangun organisasi masyarakat sipil dan organisasi mereka tampaknya sangat sukarela. Dalam hal ini, mereka menargetkan dua hal. Yaitu mengkader anggota baru organisasi mereka yang ada di negara-negara tempat mereka berada dan menempatkan orang-orang yang telah mereka latih di beberapa lembaga yang paling strategis yang ada di negara itu. Dengan demikian, mereka dapat menyelundup di jajaran pemerintahan negara-negara itu secara diam-diam, tanpa harus menampakkan diri. Beberapa orang yang memperhatikan masalah ini, mereka pasti dapat mengetahui bahwa kebanyakan alumni sekolah-sekolah FETÖ mengambil bagian di badan intelijen, militer dan institusi keamanan, Perdana Menteri, Kantor Kepresidenan, Bank Sentral dan lembaga strategis lainnya yang ada di negara-negara tempat mereka berada. Mereka yang tidak tahu tentang strategi FETÖ tidak akan dapat mengenali situasi ini, karena anggotanya masuk ke dalam lembaga-lembaga ini sebagai sosok yang liberal, sosialis, sekuler (seperti di negara manapun, dengan ideologi politik apa pun yang berlaku di negara itu).

Apakah FETÖ hanya menjadi ancaman bagi Turki?

Jelas, FETÖ, organisasi yang memiliki tujuan untuk menjadi "pemimpin alam semesta" tidak hanya menjadikan Turki sebagai tujuannya. Dikatakan bahwa organisasi tersebut dibentuk di lebih dari 170 negara. Tidak mungkin untuk mengatakan dengan jelas berapa banyak negara yang mereka kendalikan. Karena mereka tidak terbuka, mereka menjalankan organisasi itu secara rahasia dengan nama yang berbeda. Sebagian negara-negara ini bukan negara Muslim. Karena Turki tahu tujuan rahasia organisasi ini, Turki telah mengambil langkah yang diperlukan, namun kini organisasi ini menjadi ancaman yang lebih besar untuk negara yang belum mengetahui keberadaanya. Organisasi ini membuka sekolah-sekolah di beberapa negara untuk menyebarkan keyakinan sesatnya, dibungkus dengan tampilan sebagai organisasi sipil dan sukarela. Dalam hal ini, Turki telah mendapatkan pengalaman yang sangat menyakitkan, berdarah dan biaya yang tak murah, sebagai pelajaran yang sangat berharga.

Apakah ancaman FETÖ telah hilang?

Apa yang terjadi hari ini tidak terbayangkan dalam beberapa tahun yang lalu. Bahkan menggambarkan keberadaan kerajaan FETÖ yang menakutkan dan mengungkap konspirasi mereka adalah hal yang tidak mungkin bisa dilakukan. Pertama kita harus bersyukur tentang apa yang terjadi hari ini.

FETÖ mengambil kekuatan terbesar dari niat baik seorang manusia menjadi manusia. Orang-orang percaya terhadap penampilan mereka yang nampak dari luar dan memberikan dukungan besar untuk merajut dengan mreka. Kini mereka  dikenal sebagai aliran keagamanaan yang sesat, yang tersembunyi, taktik dari penampilan yang berbeda, rencana licik, kematian, pembunuhan, dan segala macam konspirasi yang dilakukan organisasi ini.

Karena Turki dan bangsa Turki telah berhasil mengungkap siapa sebenarnya organisasi ini, keberadaan organisasi ini di beberapa negara mulai runtuh. Karena tumbuhnya kesadaran sosial dan mengikisnya kekuatan organisasi ini, mereka tidak memiliki kemampuan untuk membangun sistem melalui kudeta. Namun, meskipun kekuatan untuk membangun sistem telah terkikis, mereka masih memiliki  kemampuan untuk merusak. Komandan robot pembunuh, yang memimpin organisasi ini yang tinggal di Pennsylvania, AS, sedang berkeliling dunia ke nagara-negara yang masih ada pengikut FETÖ-nya. Untuk mengadudomba Turki dengan Rusia, sebagaimana kasus pembunuhan seorang Duta Besar Rusia, Karlov, yang dilakukan oleh anggota kelompok teroris FETÖ, kelompok teroris ini masih memiliki kemampuan untuk melakukannya kembali. Hal ini tidak hanya memberikan ancaman bagi Turki, tetapi juga semua negara. Sel-sel telur organisasi teroris ini masih ada dan menunggu instruksi dari pusat-pusat terpenting sistem politik mereka.

Pendek kata, ya.. mereka adalah robot pembunuh berpenampilan manusia dan programmer yang telah teridentifikasi. Namun robot pembunuh ini berkeliaran di antara kita, karena tidak mudah untuk mengidentifikasi keberadaan mereka dan mereka melakukan kegiatan secara rahasia dengan menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya.

Ada juga ratusan ribu orang dari seluruh dunia yang terkena dampak program beracun ini. Tidak seorang pun, atau negara manapun yang masa depan masyarakatnya aman kecuali dengan menghilangkan robot pembunuh ini. Di sisi lain, robot pembunuh ini tidak statis, tetapi mereka memiliki kapasitas untuk memperbaharui diri mereka sendiri. Mereka memiliki kemampuan untuk bekerja selaras dengan banyak aktor lokal, nasional dan global. Hari ini, mereka dapat bekerja sangat erat dengan beberapa aktor global dan organisasi intelijen. Oleh karena itu, para aktor ini berpikir bahwa robot pembunuh akan selalu mematuhinya. Jelas bahwa mereka tidak pernah memiliki hubungan yang langgeng dengan negara manapun. Bahkan saat ini FETÖ juga merupakan ancaman bagi pelaku global dan layanan intelijen yang melibatkannya.

Bahkan jika mereka melakukan hal yang lain, Turki dan dunia yang telah melawan invasi ini dengan penuh keberanian, mengorbankan dirinya sendiri dan keluarganya untuk melakukan perlawanan, maka sesungguhnya Turki dan dunia sungguh berhutang budi kepada Presiden Recep Tayyip Erdoğan.

Demikian kajian dari Prof. Dr. Kudret BÜLBÜL, Dekan Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt Ankara..



Berita Terkait